Catatan 15 Februari 2016

Home/Catatan/Catatan 15 Februari 2016
  • Catatan Anak IT | Satbud

Catatan Satbud 15 Februari 2016 – Tidak mudah untuk berlaku tulus dengan orang lain, jika dibandingkan dengan orang lain mungkin aku sendiri tidaklah seberapanya mereka. Aku sudah terus berusaha mengesampingkan persoalan hati dan perasaan selama aku bekerja disini namun kenyataannya hati ini tak mungkin bisa berbohong dengan apa yang aku rasakan.

Memang walaupun berdekatan aku hampir tidak pernah bertegur sapa dengannya, tidak tahu mengapa aku menjadi tidak berani mengucapkan sepatah kata kepadanya. Berulang kali aku mencoba untuk menegurnya tapi masih saja aku tidak berani, hingga akhirnya aku putuskan untuk memulai perbincangan dengan mengirimkan pesan kepadanya.

Catatan 9 Februari 2016

Malam itu sepulangnya dari kantor aku mencoba untuk mulai menyapanya, memang tidak perlu menunggu lama dia langsung membalas pesan singkatku dan menyapa dengan hangat. Menit demi menit aku habiskan waktu untuk berbincang dengannya walaupun pada saat berdekatan aku sama sekali tidak berani untuk menyapanya akan tetapi pada perbincangan malam itu kami berbincang seolah-olah tidak pernah ada masalah serius diantara aku dan dia.

Bermula dari teguran dan menanyakan kabar, hingga kami juga bercerita masalah pribadi yang membayangi diri kami masing-masing. Rasa bimbang serta bingung seolah menjadi sebuah topik dari perbincangan kami berdua, tidak melulu serius dalalm berbincang tapi kami juga coba berbincang tentang hal yang lain.

Senyum dan tawa juga mewarnai perbincangan kami hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:30. Kami memutuskan untuk menyudahi perbincangan dan bersiap untuk tidur karena besok pagi masih ada pekerjaan yang menanti di kantor.

Catatan 13 Februari 2016

Empat hari berlalu tanpa ada perbincangan lagi diantara kami, yah memang biasanya juga kita tidak saling berkomunikasi sama sekali walaupun berjumpa. Siang  13 Februari 2016 aku mencoba menghubunginya kembali, lama juga menunggu balasannya hingga akhirnya dia membalas sapaanku. Aku awali dengan menanyakan kabarnya dan lagi ngapain saat liburan, terdengar agak basi sebenarnya tapi memang aku sendiri orang yang terkesan agak kaku dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Pada saat memulai komunikasi memang terjadi seperti biasa saja, sebelum aku memulai komunikasi aku memang sudah mempersiapkan apa yang akan aku sampaikan kepadanya. Memang berat rasanya untuk mengutarakan apa yang ada dikepala ini, mau tidak mau aku memang harus menyampaikan apa yang sudah aku rencanakan dari awal.

Tidak sesuai dengan harapan, dugaan tersebut memang sudah aku fikirkan sebelumnya. Percakapan yang awalnya biasa mulai berubah menjadi agak sedikit gelap akibat apa yang tadi aku sampaikan kepadanya. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah kesalahannya memang itu semua merupakan konsekuensi dari apa yang sudah aku lakukan.

Memang terasa sakit, ya wajar saja karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya. Sekarang semuanya memang sudah sangat jelas bagi saya sendiri, apapun keputusan yang diambil olehnya tentu aku sendiri harus menghormatinya.

Rasa tulus, sungguh-sungguh serta besarnya keinginan dan usaha ternyata belum mampu untuk membuatnya percaya.

Memulai untuk menjalani hari yang baru jauh dari bayang-bayangnya saat ini terasa memang agak sedikit sulit akan tetapi bukannya tidak mungkin. Mencoba untuk melupakan apa yang sudah terjadi mungkin bisa menjadi obat yang baik bagiku saat ini.

About the Author:

Just someone who want to share what he know about something

Tuliskan komentar atau pertanyaan terkait artikel ini.